Langsung ke konten utama

Postingan

14 Maret 2016 Cerita dari Kapal Viking

14 Maret 2016. Hari ini hari bersejarah bagi kami. Setidaknya itulah yang Kementerian Kelautan dan Perikanan atas nama bangsa Indonesia rasakan, menyaksikan kapal yang selama ini menjadi buronan Interpol, kapal tanpa kebangsaan ( stateless vessel ), melakukan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di berbagai belahan dunia, ditenggelamkan. Kapal FV. Viking, 1322 GT, ditangkap pada tanggal 26 Februari 2016 di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, 12,7 mil dari Tanjung Uban, Bintan, Provinsi Riau. Melibatkan Interpol, Multilateral Investigation Support Team (MIST) dan pihak-pihak lain  untuk mendalami temuan-temuan.  Proses hukum akan tetap berjalan. Pelanggarannya bila dirinci antara lain: AIS kapal FV. Viking dalam kondisi tidak hidup pada saat masuk ke dalam wilayah Indonesia. Berdasarkan pasal 317 UU Pelayaran, tindakan ini diancam hukuman penjara 1 (satu) tahun dan denda Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Kapal beroperasi di wilayah Indonesia tanpa SI...

Yogyakarta, Januari 2016

Yogyakarta, Januari 2016 Random hari Jumat, 22 Januari 2016 dimana saya yang seharusnya pergi ke pangandaran bersama teman-teman untuk melayat namun karena satu dan lain hal, kata hati mengatakan H-3 jam untuk pergi ke Jogja, kampung halaman Ibu yang berasal dari Pakualaman. Akhirnya tiket ke Jogja didapatkan 3 jam sebelum kereta berangkat. Bersama Mbak Lia, saya menginap di rumahnya di Ratmakan, samping kali Code, dekat jembatan Syaidan, Yogyakarta. Kota yang selalu penuh kenangan ini saya datangi terakhir kali tahun 2015 bulan Juli lalu dan biasanya kalau di Jogja pasti menginap di Kolsani, jalan Abu Bakar Ali. Cukup lama tidak jumpa. Senang sekali bisa kembali lagi. Kalibiru, Waduk Sremo, Pantai Glagah, Hutan Pinus Imogiri, Yayasan Sayap Ibu dan Yayasan Hamba tempat makna akan kehidupan yang selama ini sedang saya cari dan dalami dalam 2 hari yang singkat ini direnungkan kembali. Terima kasih Tuhan.  Kalibiru di daerah Kulonprogo, kurang lebih 1 jam dari kota Yogyakar...

Salatiga, Desember 2015

Salatiga, my father’s hometown, full of stories and memories. It is always exciting stories when he is talking about pieces of his life related to this small city, in the leg of Merbabu mountain. He started everything, he has achieved all of these things, from zero. My Papa is super! I always feel amazed what God has done in his life. Couldn't be more grateful. We prayed together in Kerep Ambarawa, hopefully this year will bring us more God’s grace and blessings. Twice a year, more or less, we always visit this small yet beautiful town in Central Java province, between Semarang and Solo. Too much wonderful things which I can explain about this city. The important thing is wherever God has put you in the place, either it is good or bad, either it is hurt, or you feel like you will die because whatever we are doing is wrong, keep doing our best. It is not easy to survive, especially when every people underestimate you or couldn't see the good thing in our lives. Look arou...

Negara Gagal Lagi Memberi Keadilan?

Dikutip dari Kompas, 2 Januari 2016, proses dan putusan Pengadilan Negeri Palembang atas kasus kebakaran hutan dan lahan PT Bumi Mekar Hijau menunjukkan negara gagal melindungi masyarakat. Mengutip kata Mongabay, ibarat komitmen Jokowi di Pengadilan Negeri Palembang gugur sudah. Hadi Jatmiko, Direktur Walhi, mengatakan keputusan pengadilan ini benar-benar menunjukkan persoalan lingkungan hidup di Indonesia bukan sesuatu yang penting. Ini benar-benar menggugurkan komitmen Presiden Jokowi untuk serius mengatasi persoalan kebakaran hutan dan lahan gambut, yang disampaikan secara terbuka di Indonesia maupun internasional. Para hakim membebaskan PT BMH dari tuntutan penggugat dengan alasan kebakaran di wilayah konsesi tergugat tidak menyebabkan kerusakan lingkungan hidup karena setelah kebakaran lahan yang terbakar masih tetap bisa ditanami dan tanaman tetap subur. Bukankah pertimbangan hakim ini sangat menodai rasa keadilan? Henri Subagiyo, Direktur Eksekutif ICEL, mengatakan pu...

International Workshop on Human Rights Protection in Fisheries Business

30 November 2015 Selain hadir dalam diskusi mengenai museum HAM di TIM, saya juga memperingati hari HAM Internasional ini dengan menggarap Lokakarya Internasional HAM bersama teman-teman Satgas IUUF. Teman kami, Oji, Mbak Grace, dan teman-teman lain bersama para expert, telah bekerja keras menggarap Permen KP yang diluncurkan tanggal 10 Desember, saat hari HAM Internasional. Pemerintah Indonesia mempunyai visi dan misi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dalam pelantikannya, Presiden Indonesia memaparkan bahwa “Kita harus bekerjasama dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudera, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita terlalu lama memunggungi laut, samudera, selat dan teluk. Ini saatnya Jalesveva Jayamahe, di Laut Kita Jaya semboyan masa lalu agar membahana”. [1] Sebagai negara kepulauan yang mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia mempunyai potensi ekonomi dan kekayaan sumber...