Langsung ke konten utama

Postingan

1 Februari menuju 2 Februari dini hari: Balada Kesalahan Visa Norwegia

Tiba waktu saya berangkat menuju Norwegia. Saya bersama Valen, delegasi Indonesia untuk ISFIT juga awalnya berangkat bersama-sama, kami sangat menanti hari ini tiba. Flight persisnya jam 00.15. Entah apa yang membuat saya harus bertahan di Jakarta sebentar. Ada kesalahan dalam visa saya yang dikeluarkan oleh Norwegian Embassy, seharusnya saya sampai tanggal 2 namun tertulis tanggal 3, alhasil saya harus mengundur keberangkatan saya. Saya menyesal tidak mengecek juga saat visa ini dahulu keluar, mau complain juga percuma. Alhasil saya baru bisa berangkat tanggal 3, sendiri. Tak apa, saya memang harus menyelesaikan beberapa tugas berarti. Tetap semangat J Oya tepat hari ini, Mas Dito diterima di Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral sebagai Analis Kerja Sama Ditjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Selamat Mas Dito, semoga semakin semangat menjadi bagian untuk membangun Indonesia lebih baik lagi. Mungkin ini salah satu kabar baik yang saya harus dengar seb...

ISFIT Preparation

Semenjak pengumuman dr ISFIT Norway awal November lalu (saya ingat sekali tepatnya tanggal 4 November, saya sungguh hampir lupa saya pernah apply, saat itu saya sedang menginap di rumah teman saya Audrey sehabis bekerja hingga larut malam, saya sungguh tidak membayangkan ini terjadi tapi Tuhan membukakan jalan, semoga bisa mengerjakan dengan baik:D). Sebelumnya flashback sedikit tentang proses saya mendaftar. Saya mengetahui ISFIT dari beberapa teman di UI dan sahabat saya Septian yang menjadi delegasi ISFIT tahun 2013. Saat itu, saya melihat topik-topiknya, membaca websitenya di isfit.org. Sangat menarik. Topiknya berada di antara isu-isu sosial, politik, hukum, dan topik global lainnya. Cara seleksi untuk mengikuti ISFIT ini adalah dengan mengirim 2 esai (sebetulnya 3, tapi esai ketiga ini tidak wajib, dan itu jika ingin mendapat travel support, karena ISFIT hanya menanggung akomodasi dan transportasi selama disana, tiket pulang pergi dari negara tidak ditanggung). Karena samb...

Proud to serve at BP REDD

26 Januari menjadi hari terakhir dalam kontrak saya bekerja di Badan REDD+. Siapa yang menyangka pula, tepat 2 hari setelah saya resmi jadi tidak bekerja lagi disana, tiba-tiba berita datang dari istana. Diterbitkannya Perpres No 16 tahun 2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hal yang selama ini menjadi pertanyaan kita semua dalam dialog awal tahun BP REDD akhirnya terjawab. Tentunya, ini sudah merupakan keputusan yang final dari Pak Presiden. Siapapun takkan bisa mengubahnya.   Badan Pengelola Penurunan Emisi  Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut(BP REDD+) dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) akan diintegrasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebelumnya, KLHK  terdiri dari 13 Ditjen, sekarang hanya terdiri dari 9 Ditjen. BP REDD dan DNPI diintegrasikan ke Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim. Berikut Pasal Peralihan Pasal 59 Perpres No 16 tahun 2015 Pasal 59 (1) Tugas dan fungsi p...

YB Mangunwijaya: Teladan bagi Pemuda yang Menggembala

Menjalani kehidupan sebagai anak di zaman sekarang ini merupakan tugas perutusan yang seharusnya kita emban. Bukan salah kita, terlahir di zaman sekarang dimana semua serba enak. Apa-apa tersedia, mau cari beragam ilmu dan berita tinggal cari di internet atau membaca buku di perpustakaan. Salah siapa kalau yang terjadi malahan daya berjuang yang kurang? Salah siapa kalau “kalah” unggul dengan orang-orang zaman dulu yang dengan keterbatasan utuh namun memiliki pengaruh. Kalau meminjam istilah Y.B Mangunwijaya, yang kita kenal akrab dengan Romo Mangun,  persoalan ini tentu tidak bisa dibandingkan. Tidak ada yang bisa disalahkan. Zamannya berbeda, cara berjuangnya juga berbeda. Disinilah Romo Mangun mengajak kita bangkit. Pembahasan akan sosok rohaniwan sekaligus arsitek, novelis, esais, sering diceritakan saat saya bersekolah dahulu di sekolah Katolik, namun membaca dan mendalami karya beliau pun malah saya jarang. Hanya sekedar tahu dari orang. Karya Romo Mangun yang membela ke...

Climate Change and Biodiversity

Pak Jatna Supriatna, Chairman Research Center for Climate Change, UI, hari ini datang ke BP REDD dan memberikan penjelasan  mengenai “Biodiversity” atau “Keanekaragaman Hayati.” Kita tentu sering melihat tulisan beliau di surat kabar yang membahas tentang biodiversity . Profil lengkap Pak Jatna bisa dilihat disini: “After having finished his Master of Science (1986) and Doctorate degree (1991) from the University of New Mexico, USA, including pre- and post-doctoral at Columbia University in New York, Dr. Jatna Supriatna served as Senior lecturer at the Biology Dept., Director of Biodiversity and Conservation Studies, Coordinator of Graduate Program on Conservation Biology of the University of Indonesia. He also became the Chief Editor of Tropical Biodiversity since 1992, Board of Editors of the International Journal of Wildlife Policy and Law, Board of Editors of Tropical Conservation Science, Asia Biodiversity Journal and IUCN Park Journal. He taught many courses including Co...

15 Januari 2015, Dialog Awal Tahun REDD+: Capaian 2014 dan Rencana Kerja 2015

Dialog Awal Tahun REDD+: Capaian 2014 dan Rencana Kerja 2015 diadakan bertempat di kantor BP REDD+ RI, Gd Mayapada Tower II, Jl Jend Sudirman, Jakarta. sumber: reddplus.go.id Pak Heru Prasetyo, Kepala BP REDD+ membuka dengan flashback apa yang sudah dikerjakan Badan REDD dari awal berdirinya sampai tahun 2014, capaian kerja apa yang telah dilakukan dan bagaimana rencana kerja ke depannya. Pemerintah, lembaga, LSM, akademisi, media hadir disana. Pak Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Bustar dari Greenpeace menjadi penanggap dalam paparan ini. REDD bukanlah suatu project melainkan sebuah movement.  Jelas dalam Perpres pendirian Badan REDD+ yaitu Perpres Nomor 62 tahun 2013 bertugas koordinasi, fasilitasi, supervisi, dan implementasi dari program-program REDD, mengembangkan sayap dalam FREDDI dan MRV. Dipimpin oleh Kepala Badan dan  melaporkan kepada presiden. Lintas sektor dan lintas disiplin ilmu. Hari itu tepat 86 hari sejak Presid...

Tanah Mama (Mama’s Soil) : Balada Perjuangan Seorang Ibu

sumber gambar: http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20141223074423-220-19927/tanah-mama-potret-perjuangan-perempuan-di-tanah-papua/ Betapa tidak kita tergugah melihat film ini. Perjuangan seorang Ibu di pulau bak surga di sebelah timur Indonesia, tanah Papua. Kekayaan alam yang indah, terkadang dipertanyakan karena berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat yang masih hidup tidak layak, sulit akan akses pendidikan dan kesehatan. Mama Halosina, tinggal di pedalaman Yahukimo, Wamena, sekitar 5 jam berjalan kaki dari kota Wamena. Mama hidup bersama 4 anaknya, menghidupi mereka seorang diri, suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Hidup sehari-hari dari uang yang ia peroleh terkadang tidak cukup. Suami yang harusnya bertanggung jawab. Pernah juga Mama Halosina mendapat denda adat karena dituduh mencuri. Sebenarnya bukannya mencuri. Tetapi mencari ubi di lahan milik adik suaminya untuk menghidupi kebutuhan makan anak-anaknya. Denda yang harusnya dibayar tak kunjung ...