Langsung ke konten utama

Postingan

Hubungan Baik Tidak di Atas Hak Berdaulat

Kapal Tiongkok kembali mengundang kontroversi.   KM Kway Fey, masuk ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan laut teritorial Indonesia 19 Maret 2016. Ada pelanggaran hak Indonesia terkait penangkapan ikan di ZEE. Ada yang mengatakan kapal kita tidak berhak menangkap kapal di ZEE. Benarkah kita sudah terlalu lama terlelap? Mau menganggu hak berdaulat? Menghalangi-halangi proses hukum? Apapun yang dituduhkan ke Cina, rasanya jangan sampai hubungan baik menghalangi proses penegakan hukum. Kronologis kejadian kapal Kway Fey adalah sebagai berikut: a. Kapal Patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal ikan berbendera Tiongkok di ZEE Indonesia, persisnya di Timur Laut Pulau Natuna. b. Pada saat kapal ikan tersebut di-escort menuju Pulau Natuna, kapal Coast Guard Tiongkok menabrakkan diri ke kapal ikan tersebut. c. Demi keselamatan, Kapal Patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan meninggalkan kapal ikan tersebut dan hanya membawa awak kapal (8 orang) berke...

Kala Hujan Di Puncak Merapi

Jumat di pertengahan Maret menghantar kami menuju salah satu ciptaan Tuhan yang tentunya tidak kalah  indah dari ciptaan lainnya di alam semesta ini, yang membentang di bagian tengah Pulau Jawa, sebagian menyebutnya angker, tetapi kami sungguh sudah menantinya, Gunung Merapi, 2930 mdpl. Kisah kami dimulai dari hari itu, setelah lelah kami bekerja. Bagi saya saat ini, waktu untuk bercengkrama dengan alam sangatlah terbatas. Tidak semudah dahulu setiap bosan bisa pergi ke pantai atau gunung dalam tiap bulan. Sekarang, situasinya berbeda. Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan, bukan? Tetaplah ingat betapa berharganya waktu bersama orang-orang yang kita sayangi. Memasuki sore dengan cuaca cerah, berangkatlah kami dari Stasiun Senen Jakarta menuju Stasiun Solojebres. `Dini hari Sabtu, kami telah tiba di stasiun, menunggu Pak Nardi menjemput kami ke basecamp Merapi di Selo. Teman perjalanan saya dalam pendakian Merapi ini: Yupi, Ismi, Hilmi, Raihan, Bams, Handoyo, d...

Alam pun Butuh Hukum dan Keadilan

10 Maret 2016. Selamat ulang tahun yang ke-60 Pak Mas Achmad Santosa a.k.a Pak Ota, mentor, bos dan aktivis lingkungan favorit kita, dan pada tanggal tersebut beliau meluncurkan buku “Alam pun Butuh Hukum dan Keadilan”. Kombinasi perjuangan biru, coklat, dan hijau di laut, tanah/darat, serta hutan, membuat kita lebih mengkontemplasikan diri kembali, apa yang sudah kita lakukan dengan lingkungan kita. Sentuhan manusiawi kita yang terkadang melukai lingkungan kita tanpa kita sadari. Dibuka dengan tulisan “Greener Constitution: Solusi Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan”, hasil diskusi Pak Ota dengan Prof. Dr. Jimly Asshidiqie.  Keberlanjutan Millenium Development Goals (MDG) melalui pemberlakuan Sustainable Development Goals (SDG), pak Ota menyebutkan dalam bukunya dokumen-dokumen politik pembangunan berkelanjutan di tingkat global merupakan reafirmasi ( reaffirm ) tentang pentingnya pengintegrasian elemen pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan perlindungan daya dukun...

14 Maret 2016 Cerita dari Kapal Viking

14 Maret 2016. Hari ini hari bersejarah bagi kami. Setidaknya itulah yang Kementerian Kelautan dan Perikanan atas nama bangsa Indonesia rasakan, menyaksikan kapal yang selama ini menjadi buronan Interpol, kapal tanpa kebangsaan ( stateless vessel ), melakukan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di berbagai belahan dunia, ditenggelamkan. Kapal FV. Viking, 1322 GT, ditangkap pada tanggal 26 Februari 2016 di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, 12,7 mil dari Tanjung Uban, Bintan, Provinsi Riau. Melibatkan Interpol, Multilateral Investigation Support Team (MIST) dan pihak-pihak lain  untuk mendalami temuan-temuan.  Proses hukum akan tetap berjalan. Pelanggarannya bila dirinci antara lain: AIS kapal FV. Viking dalam kondisi tidak hidup pada saat masuk ke dalam wilayah Indonesia. Berdasarkan pasal 317 UU Pelayaran, tindakan ini diancam hukuman penjara 1 (satu) tahun dan denda Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Kapal beroperasi di wilayah Indonesia tanpa SI...

Yogyakarta, Januari 2016

Yogyakarta, Januari 2016 Random hari Jumat, 22 Januari 2016 dimana saya yang seharusnya pergi ke pangandaran bersama teman-teman untuk melayat namun karena satu dan lain hal, kata hati mengatakan H-3 jam untuk pergi ke Jogja, kampung halaman Ibu yang berasal dari Pakualaman. Akhirnya tiket ke Jogja didapatkan 3 jam sebelum kereta berangkat. Bersama Mbak Lia, saya menginap di rumahnya di Ratmakan, samping kali Code, dekat jembatan Syaidan, Yogyakarta. Kota yang selalu penuh kenangan ini saya datangi terakhir kali tahun 2015 bulan Juli lalu dan biasanya kalau di Jogja pasti menginap di Kolsani, jalan Abu Bakar Ali. Cukup lama tidak jumpa. Senang sekali bisa kembali lagi. Kalibiru, Waduk Sremo, Pantai Glagah, Hutan Pinus Imogiri, Yayasan Sayap Ibu dan Yayasan Hamba tempat makna akan kehidupan yang selama ini sedang saya cari dan dalami dalam 2 hari yang singkat ini direnungkan kembali. Terima kasih Tuhan.  Kalibiru di daerah Kulonprogo, kurang lebih 1 jam dari kota Yogyakar...

Salatiga, Desember 2015

Salatiga, my father’s hometown, full of stories and memories. It is always exciting stories when he is talking about pieces of his life related to this small city, in the leg of Merbabu mountain. He started everything, he has achieved all of these things, from zero. My Papa is super! I always feel amazed what God has done in his life. Couldn't be more grateful. We prayed together in Kerep Ambarawa, hopefully this year will bring us more God’s grace and blessings. Twice a year, more or less, we always visit this small yet beautiful town in Central Java province, between Semarang and Solo. Too much wonderful things which I can explain about this city. The important thing is wherever God has put you in the place, either it is good or bad, either it is hurt, or you feel like you will die because whatever we are doing is wrong, keep doing our best. It is not easy to survive, especially when every people underestimate you or couldn't see the good thing in our lives. Look arou...

Negara Gagal Lagi Memberi Keadilan?

Dikutip dari Kompas, 2 Januari 2016, proses dan putusan Pengadilan Negeri Palembang atas kasus kebakaran hutan dan lahan PT Bumi Mekar Hijau menunjukkan negara gagal melindungi masyarakat. Mengutip kata Mongabay, ibarat komitmen Jokowi di Pengadilan Negeri Palembang gugur sudah. Hadi Jatmiko, Direktur Walhi, mengatakan keputusan pengadilan ini benar-benar menunjukkan persoalan lingkungan hidup di Indonesia bukan sesuatu yang penting. Ini benar-benar menggugurkan komitmen Presiden Jokowi untuk serius mengatasi persoalan kebakaran hutan dan lahan gambut, yang disampaikan secara terbuka di Indonesia maupun internasional. Para hakim membebaskan PT BMH dari tuntutan penggugat dengan alasan kebakaran di wilayah konsesi tergugat tidak menyebabkan kerusakan lingkungan hidup karena setelah kebakaran lahan yang terbakar masih tetap bisa ditanami dan tanaman tetap subur. Bukankah pertimbangan hakim ini sangat menodai rasa keadilan? Henri Subagiyo, Direktur Eksekutif ICEL, mengatakan pu...