Langsung ke konten utama

Postingan

Diskusi Museum HAM Untuk Indonesia

Memperingati hari HAM saya mengikuti diskusi Museum HAM Untuk Indonesia di Taman Ismail Marzuki. Diskusi ini menyoroti bagaimana Museum HAM dibentuk untuk memperingati terutama menjadi saksi bagi Pemerintah dan semua pihak terkait untuk menyelesaikan kasus HAM yang belum tuntas, kasus 1965, dan kasus-kasus lain. Museum HAM dibangun sebagai terobosan baru dan ide ini telah disampaikan ke Pemerintah. Pertanyaannya kemudian apakah museum bisa menjadi permanen? Bagaimana caranya? Kenapa museum dan bukan hanya monumen dan tugu? Museum bisa menciptakan ruang, dan ruang menjadi modal dasar terciptanya sebuah demokrasi. Ruang dapat menjadi tempat berdialog berinteraksi, dan itu menimbulkan proses memorialisasi. Arsitektur disini kemudian berperan menciptakan suasana kontemplasi. Museum pada dasarnya juga harus lepas dari kepentingan politik. Kasus-kasus bersejarah yang terjadi ditanggapi berbeda-beda oleh pihak-pihak tertentu dan museum ini yang akan menyajikan pandangan-pandangan ter...

ISIS dan Nilai Perdamaian Dunia (dari Kacamata Rusia)

Jatuhnya pesawat Metrojet di wilayah Mesir telah membuat Presiden Rusia, Vladimir Putin berang. Ditambah lagi peristiwa teror Paris membangunkan dunia bahwa ancaman teror ada di mana saja. Publik telah banyak mendapatkan informasi dari media-media Barat, namun jarang yang melihat dari kacamata Rusia, negara besar yang kini tengah terluka karena 224 warganya tewas akibat musibah pesawat Metrojet. Bagaimanakah Rusia memandang teror yang tengah ditebar ISIS ? (Press Release RPI) Jumat, 20 November 2015, hadir Raymond Jr. P. Sihombing, Peneliti Hukum Internasional Respublica Political Institute dalam diskusi “Kupas Tuntas Aksi Teror ISIS” di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, ISIS lahir dari Barat? Tidak dapat dipungkiri jika dunia Barat andil melahirkan keadaan demikian. Mengapa terorisme berkembang di Timur Tengah dan Asia Tengah? Kekacauan di dunia Barat menimbulkan ekstrimisme. Memang saat ini ISIS berkembang di Negara Irak dan Suriah, bukan tidak mungkin itu akan menyebar....

Sweet 'Escape' to Incredible East Java

September 26-27 September is probably the hardest month during 2015, at least that’s what I feel. But I do not want to say it “the hardest” yet the most challenging :D Ijen-Baluran closed our month beautifully. Spending this beautiful crater and national park with lovable people, Mbak Dillo, Mbak Dian and Kania. Thanks God for giving us chances to see your beautiful creature in the east of Java. It has been 4 months I’ve served in this IUUF Taskforce, it has been 3 months I’ve lived alone again at “kosan”/guest house, not in my lovely home, quite lonely but this is a new path which I have to pass. How the things are going so fast. September is the time when I began again my college life as well, but in the higher level, Master Degree. This was my third break since I worked at task force, after Cikuray and Jogja. Should have more breaks hehe. Working, studying, doing everything in the office and college is tremendously tiring but I enjoyed my everyday life. Couldn’t be mor...

“The Geography of Human Rights, Yap Thiem Hien Human Right Lecture” by Prof. Dr. Jan Pronk.

September 22 2015. Tonight, we attended “The Geography of Human Rights, Yap Thiem Hien Human Right Lecture” by Prof. Dr. Jan Pronk. Jan Pronk. Born in Scheveningen, March 16, 1940, the most powerful in development coordination field in Netherlands. Head of IGGI (Inter-governmental Group on Indonesia), IGGI was substituted by Consultative Grorup on Indonesia (CGI). He involved in Ministry of Economic and Foreign Affairs Coordination of Netherlands and funding institution for Indonesia in 1973-1977 and 1989-1992. The contribution of IGGI ended in March 1992. During his visit to Indonesia, Pronk’s having lecture in several places in Indonesia, meeting Vice President Jusuf Kalla, human right activist, and other activities related to human rights and development. At that night, the judge of the Constitutional Court, Mr. Anwar Usman opened the lecture "Human Rights Lecture of the Yap Thiam Hien". Yap Thiam Hien defenders of law and justice. The figure is not limited by t...

Gerakan Anti Korupsi (GAK) Alumni Lintas Perguruan Tinggi

Seminar Gerakan Anti Korupsi (GAK) Alumni Lintas Perguruan Tinggi “Koruptor akan merajalela bila orang-orang baik membiarkannya” GAK tercetus sebagai gabungan mahasiswa lintas kampus, saat itu negeri ini dikejutkan oleh kriminalisasi komisioner institusi pemberantas korupsi, KPK. Di saat korupsi semakin kronis, efeknya makin merajalela dan menggerogoti seluruh lapisan, baik sektor publik, privat, di sektor pendidikan, kesehatan, sumber daya alam, dan segala aspek tanpa melihat status atau posisi orang tersebut. GAK bersatu, mendeklarasikan gerakan intelektual dan moral, yang diharapkan terus menyuarakan visinya mewujudkan cita-cita Indonesia tanpa korupsi, kolusi, dan nepotisme, maupun segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Semangat ini tidak hanya ebrhenti saat ada satu kasus saja, melainkan terus menyuarakannya. Para aktivis, ratusan mahasiswa, guru besar, dan alumni beberapa perguruan tinggi termasuk UI, ITB...

"Ibadah" Kebudayaan, Agustus 2015

"Ibadah" kebudayaan yang saya lakukan hari itu, Jumat 28 Agustus 2015, tak lain dan tak bukan adalah teater favorit saya, Indonesia Kita dari Butet Kartaredjasa, teater rutin 3 bulanan yang sangat menjadi favorit saya dan keluarga saya di akhir pekan. Isinya sarat tentang sindiran tentang politik, pemerintahan, bercampur dengan seni dan budaya khas Indonesia yang dikemas dengan sangat memukau. Kemerdekaan Indonesia yang telah diraih oleh para founding fathers , kaum intelektual, dan tentunya oleh seluruh rakyat Indonesia tidak boleh disia-siakan begitu saja. Datuk Bagindo Presiden, dengan latar belakang kebudayaan Minang, mengingatkan kita kembali kepada para pejuang asal Minang. Sayangnya selama ini kursi Presiden selalu diduduki orang Jawa hehe. Kiprah perjuangannya mungkin tidak kalah dengan orang Jawa itu sendiri.  Sebut saja Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan Tan Malaka, sosok pemikir yang pengorbanannya begitu besar bagi kemajuan bangsa kita. Mereka...

Indonesia, 70th, Ayo Kerja:)

Mengingat kembali, 17 Agustus 2015 yang lalu, pagi itu saya dan mbak Fadilla, bersama Mas Gun dan Mas Nanda, bertugas membagikan booklets Kementerian/Lembaga di Istana Negara kepada para tamu undangan di istana. Karena bertepatan dengan upacara 17 Agustus, suasananya sungguh haru. Hati saya selalu bergetar melihat bendera merah putih berkibar dengan gagahya, tertiup angin, membuatnya semakin terlihat perkasa. Lelah berdiri dan bertugas seharian, tidak bisa menyaksikan upacara “sakral” tersebut secara penuh. Tetapi bahagia. Bahagia yang sederhana bisa menyambut dan membagikan sebuah informasi penting kepada tamu. Tugas yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Saya sangat bersyukur bisa mendapat pengalaman ini. Tamu undangan sangat banyak yang hadir.  Paspampres Romo Magnis:) Berbicara 17 Agustus, tidak lupa dengan film ini. Battle of Surabaya, film animasi buatan Indonesia, menceritakan tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga perang terjadi...